Oct 24 2007
Wanita Penghibur Cijapati Mengharap Nagreg Macet
SEANDAINYA terjadi kemacetan lalu lintas di Kawasan Nagreg, para pengemudi yang tak sabar antre, pasti akan mencari alternatif melalui jalur Cijapati. Bahkan, tanpa ada kemacetan di Nagreg pun bagi sebagian pengendara dari arah Garut-Bandung dan sebaliknya belakangan ini menggunakan jalur alternatif Cijapati.
Menggunakan jalur Cijapati dari arah Kec. Kadungora Kab. Garut sampai Cicalengka Kab. Bandung memang asyik juga. Setiap pengguna jalan bisa melajukan kendaraan secara perlahan. Sambil menikmati pemandangan alam indah dan menghirup udara segar, atau mampir di warung suvenir sambil menikmati makanan ringan ala pegunungan.
Memilih jalur Cijapati agak jauh juga jarak jalan bila menggunakan jalur Nagreg. Perbedaan jarak berdasarkan catatan di petunjuk speed motor hanya sekira 12 km. Perbedaan jarak bagi pengendara kendaraan kecil tak ada persoalan, yang penting menggunakan jalur Cijapati akan terasa aman dan nyaman.
“Tak nyana ternyata jalur Cijapati membawa kenikmatan bagi kami. Kalau tahu dari dulu, mengapa harus pakai jalur Nagreg yang dikenal jalan berbahaya?,” kata Ir. Faridz Wajdi, asal Yogyakarta yang pada siang bersama keluarga sedang makan di pinggir jalur Cijapati kawasan puncak Tuladan Kec. Cikancur perbatasan Kab. Garut-Bandung. Faridz mengaku baru pertama kali selama pulang-pergi Sukabumi-Yogyakarta menggunakan alternatif Cijapati.
Sungguh disayangkan oleh Faridz, sepanjang jalur Cijapati sangat kurang terlihat rambu-rambu lalu lintas. Padahal kondisi jalan berhotmiks sempit, hanya berukuran empat meteran, banyak kelokan, naik-turun, dan banyak jurang berbahaya tanpa penangkalnya.
Di kawasan puncak Tuladan, banyak kendaraan roda dua dan roda empat parkir di pinggir jalan. Para pengemudi dan penumpangnya asyik melihat keindahan alam. Seperti Gunung Haruman, Kawah Kamojang dengan kepulan asap putih, peternakan sapi, perkebunan rakyat, dll. Sejumlah pemuda mendaki guna melihat keindahan Kota Bandung dan Garut dilihat dari atas bukit.
Menurut keterangan warga setempat, jalan antara Kec. Kadungora ke Kec. Cicalengka dulunya hanya jalan yang bisa dilalui kendaraan roda dua, atau kendaraan truk pengangkut sayur mayur hasil tanaman petani di lereng Gunung Kasur dan Gunung Mandalawangi. Jarang sekali dilalui kendaraan umum, karena jalur ini dulunya dikenal rawan penggarongan.
“Sekira tahun 1995 jalan yang dikenal terjal itu diaspal, dan pada tahun 1999 berhotmiks, ternyata dijadikan jalur alternatif bila lalu lintas di Nagreg macet. Bahkan, setiap hari siang malam banyak kendaraan melalui jalur ini,” kata Sukarja (52) warga Ds. Mekarlaksana Kec. Cikancung.
Setelah jalur alternatif Cijapati banyak dilalui kendaraan, banyak warga sekitar yang lahannya berada di pinggiran jalan lantas dijual kepada pemodal luar. Tanah tersebut digunakan untuk dibangun rumah makanan, warung suvenir, minuman, hotel, vila, bar, kafe, dan karaoke yang identik dengan pelayan wanitanya.
Karena larisnya tanah pinggir jalan dibeli para pemodal besar, tak heran kata Sukarja, sekarang harga tanah yang dulunya sulit laku, dijual rata-rata Rp 1,5 juta/ tumbak. Bahkan untuk sekarang ini sangat sulit mencari lahan pinggir jalan karena semuanya sudah dimiliki pemodal luar.
Hampir kebanyakan bangunan komersial disesuaikan dengan arsitek bangunan Sunda. Di setiap warung disediakan lahan tempat beristirahat tamu untuk menikmati hidangan sambil melihat indahnya alam pegunungan. Di kafe-kafe yang tersedia musik karaoke disediakan pelayan wanita penghibur yang ramah dan santun.
“Kalau Bapak cape, silakan pilih mau istrirahat di kafe sambil nembang, bermalam di hotel, berajojing ria di bar, di kawasan Cijapati semuanya ada. Dan dijamin aman karena tak ada pemuda kampung yang ganggu,” kata Komar, pemuda yang bertugas melayani para calon tamu yang beristirahat di puncak.
Tergantung Nagreg
Menurut Komar, para penjual jasa di sepanjang jalur Cijapati terkesan ragu-ragu membuka usahanya. Soalnya, kendaraan yang melewati jalur ini belum stabil. Bila ada kemacetan di Nagreg semua pedagang seolah mendapatkan rezeki nomplok. Bila sebaliknya, tak sedikit para pedagang nasi menanggung kerugian. Termasuk para pemilik kafe dan pelayan wanitanya pun tak mendapatkan rezeki dari tamu.
Seperti yang dialami Ny. Parinem (42) pengusaha kafe dan karaoke asal Solo Jateng di puncak Tuladan. Kata dia, karena konsumen tidak stabil, dengan terpaksa bangunan kafe miliknya sekarang dijual kepada Ny. Eneng asal Bandung seharga Rp 25 juta.
“Saya jual saja, karena Nagreg sudah lama tidak macet, kami harus menanggung kerugian membayar karyawan dan pelayan wanita. Kalau macet terus kami bisa kaya raya,” keluh Ny. Parinem.
Hal sama diungkapkan para pelayan wanita penghibur yang sedang nongkrong di kafe-kafe. Kata mereka, bila Nagreg macet, sehari semalam tamu yang turun dari kendaraan terus mengalir ke kafenya. Namun, bila Nagreg lancar meski ada juga kendaraan yang melewati jalur Cijapati jarang yang mampir.
“Makanya Tety mah ngadoakeun mugia Nagreg sing langganan macet, ambeh enggal kenging rejeki,” kata Tetty sambil mengisap sebatang rokok filter. Tetty dan empat rekannya berstatus janda asal Kab. Cianjur, mengaku sudah empat bulan bekerja sebagai wanita penghibur di jalur Cijapati. Namun, selama ini mereka merasa kesulitan mencari uang karena tamu jarang mampir ke kafenya.
Puncaknya Kab. Bandung
Para pengemudi yang tengah beristirahat di pinggiran jalan menyebutkan, jalur alternatif Cijapati tak ubahnya seperti melewati Kawasan Puncak Cianjur-Bogor. Betapa tidak, melalui jalur ini, jalan berkelok dan naik turun, di kiri kanan jalan tampak pemandangan alam indah dan gunung menghijau. Sarana kebutuhan untuk para pengguna jalan sudah tersedia.
“Hanya saja perlu badan jalan diperlebar, agar semua jenis kendaraan bisa melalui jalur ini. Alangkah bagusnya bila lereng-lereng gunung ditanami palawija atau kebun teh menghijau. Bila hal itu dilakukan, apa bedanya Cijapati dengan Puncak?” kata Jajang pengemudi asal Kab. Tasikmalaya.
Sebetulnya kawasan alam Cijapati hampir mirip dengan Puncak. Lereng-lereng gunung menghijau yang sarat tanaman teh dan palawija. Dulunya di Desa Mekarlaksana terdapat sebuah situ bernama Siti Arja. Anehnya, setelah jalur Cijapati dijadikan jalan alternatif sejumlah areal lereng gunung malah jadi gundul. Termasuk situ Siti Arja hanya tinggal kenangan.
“Makanya jalur ini disebut Cijapati, untuk mengenang kawasan ini yang dulunya kaya dengan aset alami, ternyata sekarang hilang terbang tanpa karena, bagaikan biji makanan dibawa burung merpati,” kata Ihsan Kamal warga Cipari yang rumahnya berdekatan dengan sebuah hotel dan restoran. (H. Undang Sunaryo/”Mitra Dialog”)***
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!






