aviyasa

Just another Today.com weblog

&
 

Oct 24 2007

Dipajang Dalam Etalase dengan Nomor Dada 16

Published by aviyasa at 7:12 am under Uncategorized Edit This

Siap memberi konsultasi sek

Prostitusi di Batam
Dipajang Dalam Etalase dengan Nomor Dada 16

“SAYA hanya mencari uang,” kata Tati. Gadis berusia 15 tahun itu, bisa ditemukan di salah satu karaoke di kawasan Nagoya, Pulau Batam. Ia dipajang dalam etalase dengan nomor dada 16. Di dalam etalase, Tati selalu tersenyum.


KAWASAN Nagoya, lokasi favorit pengunjung di Batam.*IBNU SOFWAN/”PR”

Bagaimana cara berkenalan dengan Tati? Wesite www.idur.tripod.com menulis, seorang petugas di tempat itu akan dengan gampang memanggil Tati ke luar etalase, jika menyebut angka yang terpampang di dadanya. Bukan hanya Tati, puluhan gadis lain yang dipajang di tempat itu, bisa keluar dengan sekali menyebut angka.

Belakangan ini, Batam sudah menjadi “gudang” pelacur ABG. Jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Para gadis berusia antara 14 - 19 tahun itu, ditampung di ratusan rumah toko (ruko) di kawasan Nagoya dan Sei Jodoh. Pada malam hari, mereka menjadi “pemikat” di sekira 30 tempat hiburan yang tersebar di Batam.

Umumnya tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, panti pijat, menyimpan sekira 50 sampai 100 orang wanita muda yang masih tergolong “anak baru gede” (ABG) sebagai karyawan, untuk menjaring tamu-tamu yang haus hiburan.

Kecuali pub, hampir semua tempat hiburan menyimpan wanita. Meski tidak langsung terlihat di etalase tempat hiburan, karena ada larangan dari pemerintah dan Otorita Batam, namun hampir tidak ada tempat hiburan yang tidak menyediakan wanita.

Di setiap tempat hiburan itu, para ABG dikoordinasi oleh seorang germo, yang biasa dipanggil dengan sebutan mami. Jika ada yang memesan, si mami dengan gampang menuntun para ABG seperti Tati untuk duduk di samping pria. Tati mengaku berasal dari sebuah desa di Jawa Barat. Ia datang ke Batam bertujuan mencari uang sebanyak mungkin. Untuk itu, ia belajar berbagai hal, termasuk memilih parfum yang bisa memancing gairah pria. Ia juga sudah pandai menyanyi.

Dengan berbagai cara, Tati selalu berupaya agar pria yang ditemani bisa langsung mengajaknya ke “lantai atas”, sebutan untuk tempat tersedianya kamar tidur. Sebagai wanita pencari uang, dia tidak pernah memilih teman kencannya. “Saya sering melayani pria tua dari Singapura,” ujarnya.

**

SEJAK datang dari Jawa Barat, Tati telah dua kali memperpanjang kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja. Satu ikatan kontrak lamanya empat bulan. Sepanjang waktu itu, dia tidak boleh keluar kecuali seizin mami atau di-booking pria.

“Kontrol terhadap kami sangat ketat, sehingga tidak bisa sesuka hati pergi ke suatu tempat,” kisah Tati. Sang germo, harus tetap mengetahui di mana posisi “anak-anak” setiap saat. Sebab, tidak jarang ada “pesanan” mendadak.

Di perusahaan itu, ada sekira 80 wanita seperti dirinya. Sedangkan untuk membawa mereka semalam, harus membayar Rp 300.000,00. Mereka boleh dibawa sore hari atau malam hari, sampai besok harinya paling lambat pukul 9.00 WIB.

Mereka hanya memperoleh sebagian kecil dari tarif yang dikenakan oleh pengelola hiburan. Itu sebabnya, para ABG banyak yang memilih untuk tinggal di luar agar gampang menjaring pelanggan tanpa ikatan. “Kami hanya mendapat Rp 40.000,00 untuk short time, sementara untuk satu malam, kami hanya mendapat Rp 100.000,00,” ujar Iis (16), rekan “seprofesi” Tati.

Pengaturan tarif sebesar itu dilakukan karena untuk short time, perusahaan memberikan Rp 40.000,00 untuk sewa kamar, Rp 20.000,00 bagi sopir taksi atau pengantar, dan Rp 60.000,00 ke perusahaan.

Setelah uangnya terkumpul, mereka biasanya pulang kampung. “Tapi tidak selalu banyak dibawa ke kampung, karena banyak potongan tinggal di sini (Batam),” ujar Vina (18), pekerja seks lainnya.

Saat pulang kampung empat bulan lalu, Vina mengaku hanya membawa uang sebesar Rp 2 juta. Wanita berkulit kuning langsat itu mengakui dirinya memang boros. Majikannya sering membawa pakaian-pakaian yang menarik dan dibagikan kepada mereka, yang mengambil harganya dihitungkan pada akhir masa kontrak. Umumnya, harga pakaian itu jauh di atas harga normal.

Di luar tempat hiburan, terdapat pula para ABG yang asli Batam atau daerah sekitarnya dan masih sekolah di SMA. Tapi jumlahnya hanya sedikit. Mereka bisa ditemukan di pusat keramaian Nagoya, Pelita, dan Jodoh, Batam Timur.

ABG-ABG itu juga biasa mangkal di sejumlah diskotek, Lucky Plaza, dan hotel-hotel lainnya. Cirinya, mereka menggunakan pakaian dengan dada terbuka, sepatu hak tinggi, serta menyandang tas kecil di punggung. Mereka keluar dari rumah sekira pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Konsumen wanita ABG ini cukup beragam, mulai pemuda yang bekerja di sejumlah industri atau sektor informal, hingga pria tua bangka dari Singapura atau Malaysia.

Bahkan, sejumlah pria berumur dari Singapura menjadikan para ABG itu sebagai istri simpanan. Mereka diberi biaya hidup yang memadai, yakni mulai dari 500 dolar Singapura/bulan - 1.500 dolar Singapura/bulan. Namun, para istri simpanan ini akan berada kembali di remang malam begitu “suaminya” pulang ke Singapura. (is/”PR”)***

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!

Some Today.com contributors may have received a fee or a promotional product or service from a manufacturer for promotional consideration, while others receive no consideration at all. Each contributor is responsible for disclosing any such promotional consideration.